Pages - Menu

Rabu, 10 Juni 2015

Song of Diary :)

(Verse 1)
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid
To fall
But watching you stand alone
All of my doubt
Suddenly goes away somehow
One step closer
(Chorus)
I have died every day
waiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more
(Verse 2)
Time stands still
beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything
Take away
What's standing in front of me
Every breath,
Every hour has come to this
One step closer
(Chorus)
I have died every day
Waiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more
And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more
One step closer
One step closer
(Chorus)
I have died every day
Waiting for you
Darlin' don't be afraid,
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more
And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more
 
Haha lagu ini adaah lagu terromantis yang aku pernah dengar, pernah membuatku mengeluarkan air mata :)

Please Just Calm Down :D



Peristiwa itu terjadi saat aku memasuki kelas 5 dibangku sekolah dasar. saat dimana kelas kami akan di jadikan sebuah tempat dimana aku dan teman-temanku akan dijadikan sebagai pelaksana kegiatan lomba-lomba yang diadakan setiap tahunnya.
Namaku Iqlima Maulina tapi semua orang memanggilku kiki saat itu aku bersekolah di sebuah sekolah dasar yag terletak di tengah kota yang berada di pinggir jalan raya tepatnya di SDN Kraton 3 bangkalan. sekolahku itu memang sekolah kecil yang terletak di pinggir jalan raya tapi sekolahku menyimpan segudang prestasi yang di ukirkan oleh siswa-siswi sekolah tersebut. mulai dari kelas 2 SD aku selalu berada di peringat pertama dalam kelasku, mungkin saat itu guru-guruku mulai merencanakan bahwa saat aku memasuki kelas 5 SD aku akan diikutkan lomba tahunan yang diadakan dinas pendidikan untuk tingkat SD.
Aku sungguh tidak menyangka saat itu akan diikutkan lomba siswa teladan. aku dipanggil ke kantor guru,
Ibu gurupun berkata padaku "Ki, kamu akan di pilih sebagai peserta lomba siswa teladan yang akan diselenggarakan oleh dinas pendidikan"
Aku pun menjawab dengan polos "iya bu"
"Kamu harus berusaha agar dapat mempertahankan prestasi yang telah di ukir oleh kakak kelasmu bahwa sekolah ini terus menerus mendapatkan juara pertama dalam omba tersebut" lanjut ibu guru
Saat itulah aku mulai ditumbuhi ketakutan dan kekhawatiran, didalam pikiranku hanya terbayang bagaimana jika aku tidak dapat memperoleh juara pertama seperti yang bapak atau ibu guru harapkan di sekolahku tersebut.
Aku beserta seorang temanku yang bernama Kholilur Rohman Gafur yang biasa di panggil lulung mungkin karena lulung peringkat ketiga di kelas kami sehingga untuk kami ditujuk untuk mengikuti lomba siswa teladan sebagai wakil dari sekolah kami.
Kami berdua mengikuti serangkaian pembelajaran yang panjang supaya kami bisa siap untuk mengikuti lomba tersebut, mulai saat sebelum masuk sekolah kami sudah di harapkan untuk datang sebelum bel masuk sehingga kami dapat belajar. kami juga sering tidak mengikuti pelajaran di kelas karena kami harus konsentrasi pada pelajaran yang dilombakan.
Saat belajar bersama lulung bertanya padaku " apa yang akan kamu tampilkan saat siswa teladan di bagian ketrampilan nanti ki ?"
Lalu akupun menjawab "mungkin di bagian puisi saja lung, kalo kamu gimana ?"
"Mungkin aku akan menampilkan pidato saja" jawab lulung
"Bukankah itu harus menghafal lung ? apa kamu tidak akan kerepotan jika kamu masih menghafal pidato sambil menghafal segala macam teori-teori pelajaran ini ?" tanyaku.
"Ah.. itu mah masalah gampang aku kan anak yang pinter ki" jawab lulung sambil disertai tawa.
"huh.. dasar kamu lung sok banget deh" akupun ikut tertawa.
Waktu terus berlalu, kami tetap di  arahkan oleh guru kami untuk terus belajar dan terus belajar, kami belajar tidak hanya disekolah. di rumah guru kami pun kami diajari untuk siap mental dan fisik kami. sungguh sangat melelahkan hingga seakan-akan bahwa kami adalah sapi yang harus siap di adu. untuk mendapat kemenangan sapi itu pun harus dirawat, di beri jamu dan lain sebagainya. begitu pula dengan aku dan lulung.
Saat perlombaan di tingkat kecamatan kurang dua minggu kami di panggil kembali oleh ibu guru kami.
Beliau berkata "kalian akan menginap di rumah ibu untuk menghadapi lomba tersebut"
Aku dan lulung pun menuruti perkataan guru kami "iya bu"
Sorenya pun kami berangkat dari rumah kami masing-masing dengan segala persiapan untuk menginap seperti baju ganti, alat sholat, alat mandi, buku-buku yang kami perlukan nanti dan lain sebagainya.aku berfikir bahwa aku dan lulung akan dikarantina seperti para prajurit militer.
Dan semenjak itulah rasa khawatirku mulai bertambah tinggi, rasa khawatir akan kekalahan dalam perombaan itu terus menghantui pikiranku. aku tidak mengerti mengapa aku bisa menjadi seperti itu. tapi rasa khawatir itu tidak mengganggu pemikiran dalam belajar hanya saja rasa khawatir itu membuat mentalku menjadi sangat turun sehingga nafsu makanku menjadi turun, sering muntah dan akupun menangis.
Suatu ketika pernah ibu guru melihat mataku yang sedang bengkak beliau pun bertanya "mengapa matamu memerah seperti itu nak ?".
"Ini hanya kelilipan saja bu" jawabku berbohong. aku sangat takut untuk menceritakan tentang perasaanku itu.
Lambat laun terbongkar pula kebohonganku tersebut sehingga bu guru memberitahukan bahwa nafsu makanku hilang dan aku sering menangis saat di karantina kepada ibuku. saat bertemu aku di rumah bu guru ibuku hanya memberikanku sebotol air yang diberi bacaan arab di dalamnya dan menyuruhku untuk meminumnya. aku pun menurutinya.
Aku dan lulung terus menerus belajar bukan hanya teori dalam pelajaran tapi ada pula ketrampilan, pengetahuan dan bahasa inggris kami pun terus menerus belajar untuk memberikan yang terbaik meskipun dalam hatiku masi terus-menerus merasa khawatir.
Satu hari sebelum perlombaan dimulai, aku pun dipulangkan dari rumah bu guru.
sesampainya di rumah,
Ibuku bertanya padaku "kak, mengapa nafsu makanmu menjadi hilang seperti itu ?"
"Kakak hanya khawatir ma, khawatir jika aku tidak bisa mendapatkan juara pertama dalam perlombaan itu" jawabku sambil mengeluarkan air mata
Ibuku pun berkata lagi "kak, dalam perlombaan itu pasti ada yang namanya menang dan pasti ada yang namanya kalah. sehingga menang ataupun kalah adalah hal yang biasa. Kamu sudah mendapatkan Ilmu yang lebih ditambah pengalaman yang tidak semua orang bisa mendpatkannya. Berjuanglah, Kak” sammbil memelukku.
            “Kalau begitu Aku akan berjuang dengan semua kemampuanku”. Ucapku dalam hati.
Ternyata tak kusangka aku mendapatkan berita yang baik untuk keluargaku juga sekolahku, aku mendaptkan tempat pertama yang sangat didamba-dambakan orang banyak. Alhamdulillah aku selalu mengucap syukurku pada Allah maupun keluarga dan teman-teman yang telah mendoakanku.


Aduh Susahnya mengatur beberapa kasus di negara kita ini. Tapi kita harus yahin bisa berantas hal tersebut! AllahuAkbar {}




 Remaja zaman sekarang sudah mulai mengenal yang namanya pacaran tanpa ada batasan, gaya pacaran zaman sekarang sudah mulai melawati batasan seperti berpegangan tangan, berpelukan, melakukan ciuman dan bahkan sampai ada yang hamil. Orang tua yang terlalu permisif menyebabkan anak-anak dapat melakukan hal yang tidak diketahui oleh orang tua mereka,dan peran sosial seperti masyarakat umum mulai luntur dan tidak memperdulikan saat para remaja berpacaran di tempat umum. Remaja memiliki dua nilai yaitu nilai harapan (idelisme) dan kemampuan.
Apabila kedua nilai tersebut tidak terjadi keselarasan maka akan muncul bentuk-bentuk frustasi. Macam-macam frustasi. Macam-macam frustasi ini pada gilirannya akan merangsang generasi muda untuk melakukan tindakan-tindakan abnormal ( menyimpang). Dari sudut pandang kesehatan, tindakan menyimpang yang akan mengkhawatirkan adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas (unprotected sexuality), penyebaran penyakit kelamin, kehamilan di luar nikah atau kehamilan yang tidak dikehendaki ( adolecent unwanted pragnancy ) di kalangan remaja.
Perubahan budaya agraris ke budaya IPTEK tidak selalu membawa hasil yang memuaskan. Seperti yang terjadi sekarang ini, berbagai masalah timbul sebagai akibat dari perubahan budaya tersebut. Sebagian dari masyarakat  telah berubah dari masyarakat tradisonal menjadi masyarakat modern. Perubahan masyarakat ini ditandai dengan pula oleh perubahan bentuk solidaritas mekanik ke solidaritas organik, artinya sifat-sifat kebersamaan cenderung memudar dan mulai muncul sifat individualis. Ciri perubahan ini adalah merosotnya peran sosial agama dan adat dalam mempengaruhi aspek kehidupan yang lainnya. Sehingga remaja sekarang tidak mengindahkan yang namanya norma susila dan hukum agama
Berdasarkan hasil penelitian yang telah kami peroleh menunjukkan bahwa remaja di daerah sekitar kota Bangkalan telah mengalami perubahan pada aspek social dan agama. Hal ini ditandai dengan perilaku dari mayoritas remaja sekarang memang sering berpacaran di tempat yang tidak baik untuk berdua dengan lawan jenis karena akan mendatangkan orang ketiga alias setan. Remaja yang berpacaran itu kebanyakan menjalin hubungan yang hanya seumur jagung. Orang tua mereka juga tidak mengetahui anak-anaknya sedang berpacaran di tempat yang tidak baik dilihat orang. Dan rasa peduli masyarakat tentang keberadaan mereka di tempat tersebut berkurang. Masyarakat tidak memberikan teguran secara langsung kepada remaja yang melakukan penyimpangan akan tetapi akan menjadikan hal tersebut bahan pembicaraan masyarakat. Perilaku masyarakat sekarang yang semakin permisif terhadap penyimpangan – penyimpangan ini yang membuat remaja merasa tibdakan yang dilakukan itu tidak menyimpang.   Perilaku permisif ini juga tidak hanya terjadi pada masyarakat sekitar tapi juga orang tua. Orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk pergi dengan teman – temanya tanpa ada control yang maksimal. Orang tua yang terlalu memberikan kepercayaan tanpa batas kepada anak tanpa ada tuntutan tanggungjawab dari anak.
Fenonema ini sangat memprihatinkan gebnerasi penerus bangsa kita pada umunya dan kelangsungan pembangunan di Kota Bangkalan pada khususnya. Jika generasi kita telah mengalami kemunduran aspek social dan agama akan menjadikan penerus bangsa ini mengalami kegagalan di tengah perjalanan dalam mencapai cita – cita yang dikarenakan hamil diluar nikah, putus sekolah, terlibat penggunaan obat – obatan terlarang atau masalah yang lain. Sehingga perlu dilakukan tindakan khusus dan nyata untuk menyikapi fenomena yang sedang terjadi saat ini.

Apa Kata Dunia ? -_-



Nama                         : Aan
Umur saat ini          : 21 tahun
Pekerjaan                : Tukang parkir
Alamat                      : Jl. Trunojoyo Gang VII (dekat bidan narsih)
Sekolah terakhir     : SMP
Berikut adalah salah satu contoh Traficking anak hingga menyababkan keadaan anak tersebut menjadi salah satu hal yang berdampak buruk pada masa depannnya. Ya Narasumber diatas merupakan salah satu contoh anak yang tidak diberikan kebebasan untuk mengenyam masa pendidikan yang sangat berharga untuk masa depannya dikarenakan faktor yang sekiranya sangat tidak dapat dipercaya.
Menurut Narasumber alasan dia memutuskan untuk putus sekolah karena keinginannya untuk bekerja supaya bisa memenuhi kebutukan sehari – hari yang sangat tidak memungkinkan bisa dipenuhi oleh ibunya seorang diri, saat itu ayahnya telah tiada sehingga ibunya menjadi tulang punngung. Untuk meringankan beban ibunya maka dia berhenti sekolah.
Pada saat itu Ibunya tidak menghalangi niatnya untuk berhenti sekolah karena faktor ketidakmampuannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sangat banyak sehingga merelakan anaknya untuk putus sekolah usia SMP. Menurut narasumber dia memiliki saudara juga yang membutuhkan kebutuhan yang lebih baik . Dia berusaha untuk memperbaiki keluarganya dengan mengorbankan dirinya. Sungguh memprihatinkan.
            Narasumber juga mengatakan bahwa dia juga memiliki keinginan berhenti sekolah untuk mencari uang bagi keluarganya. “Makan aja susah mbak, mau sekolah gimana. Saya memutuskan untuk bekerja saat saya lulus sekolah saat itu” Kata Narasumber (Sabtu, 28 Maret 2015). Saya merasa bahwa seharusnya pemerintahan Indonesia ini harus peka terhadap masyarakatnya yang sangat membuat negara kita menjadi rendah di mata Dunia.

Jumat, 05 Juni 2015

Mungkin inilah jalanku~



“ki, main layang-layang yuk?”, teriak lelaki mungil itu kepada seorang gadis kecil diseberang rumahnya.
“iya.. sebentar ya, aku ijin mama dulu”,
“cepetan ya Kiara”,
                Gadis itu namanya Kiara. Dia baru saja pindah ke kota berhawa panas ini. Tapi entah mengapa, baru dua hari pindah kemari, banyak anak yang senang bermain dengannya. Termasuk lelaki kecil itu. Aldi. Tetangga didepan rumahnya. Bersama Aldi, entah mengapa perasaan Kiara jauh lebih nyaman dan terlindungi.
“kalau kiara sembuh, aldi janji bakalan temani Kiara sampai besar nanti”, begitu kata Aldi saat Kiara hampir kritis karena kecelakaan bersama paman dan bibinya.
Siang itu aldi mengajak kiara, vina, icha, dan gilang berjalan-jalan kesebuah sawah dekat kompleks perumahan mereka. Panas matahari yang sangat terik siang itu memebuat kelima anak kecil itu sangat kepanasan. Kemudian aldi dan gilang memotong daun pisang untuk dijadikan sebuah payung. Sementara kiara, vina, dan icha berteduh di pohon terdekat. Daun pisang yang ada ternyata hanya 4 lembar. 1 untuk aldi, 1 untuk vina, 1 untuk icha, dan 1 untuk gilang. Kiara yang hampir menangis karena tidak kebagian daun pisang kemudian digenggam tangannya oleh aldi. Lalu daun pisang yang dibawanya memayungi mereka berdua.
“aldi kan udah janji sama kiara bakal nemenin kiara”, ucap aldi setengah berbisik sambil tersenyum.
                Dua tahun berlalu, saatnya pengumuman kelulusan sekolah dasar. Kiara lulus, teman-temannya juga. Kiara hanya tinggal mendaftar ke salah satu sekolah menengah pertama di kotanya. Dan aldi, setelah menginjak kelas 6, mereka tak lagi bermain bersama. Selalu saja ada alasan yang diucapkan aldi ketika kiara mengajaknya bermain keluar. Padahal kiara sangat senang ketika aldi mengajaknya bermain layang-layang walaupun itu membuat kulitnya menjadi agak kecoklatan, bersepeda mengelilingi kompleks ketika sore hari, ataupun hanya bermain boneka di halaman depan rumah kiara.
                Saat kiara mendaftar salah satu sekolah menengah favorit, ia mendapati aldi juga mendaftar di sekolah yang sama dengannya. Kiara sangat senang karena bisa satu sekolah lagi dengan aldi.
“hai al. Gimana hasilnya? Diterima?”, tanya kiara
“ya”, aldi menjawabnya dengan cuek membuat kiara sedikit sedih.
“oh, oke. Aku balik ke papa ya. Dah al”, ucap kiara yang hanya dibalas gumaman oleh aldi.
                Kiara kesal dan kecewa, mana janji yang dulu akan menemaninya sampai dia besar? Apakah itu hanya sebuah permainan kata yang diucap oleh aldi untuk memotivasi kiara agar cepat sembuh? Atau mempunyai makna terdalam? Entahlah. Tapi kiara akan tetap menyayangi aldi. Pagi itu diadakan upacara penerimaan siswa baru di sekolah menengah kiara juga aldi. Saat kiara akan menghampiri aldi, aldi malah pergi dengan teman-teman barunya disana. Kiara makin kesal dan kecewa lagi. Bisa-bisanya aldi tak melihatnya. Tetapi kiara tetap pada pendiriannya untuk menyayangi aldi.
                Setahun berlalu disekolah menengah pertama, kiara kembali akrab dengan aldi, meskipun usaha mati-matian untuk mendapatkan nomor handphone aldi yang notabene telah menjadi the most wanted disekolahnya karena memang tampang aldi yang lumayan tampan. Usaha kiara yang mati-matian membuahkan hasil yang manis. Hampir setiap hari, mereka saling mengirim pesan singkat. Mereka jarang bertemu, karena beberapa bulan lalu kiara pindah ke sebuah kompleks perumahan yang lain. Setelah hari berganti minggu, minggu berganti bulan, kiara dan aldi menjalin sebuah cerita cinta. Tapi, semua kandas ketika kiara mengetahui aldi hanya menjadikannya pacar kedua. Ia sangat kesal dan kecewa untuk kesekian kalinya. Setelah menginjak kelas 8, kiara memiliki seorang teman laki-laki, dia baik, pintar, dan ramah. Kiara merasa ia merasa ia menyukai lelaki itu. Selama ini temannya itu, yang bernama ray juga menyukainya. Setelah berminggu-minggu mereka dekat, akhirnya mereka berpacaran.
                Aldi entah bagaimana kabarnya, ia jarang sekali menerima pesan singkat dari aldi setelah kejadian itu. Kiara tetap berpacaran dengan ray sampai mereka menginjakkan kaki di kelas 9. Tetapi setelah lulus ujian nasional, mereka sepakat untuk mengakhiri status berpacaran mereka, karena ray akan melanjutkan sekolah di luar kota.
                Ketika ia bersekolah di sekolah menengah atas, sungguh mengejutkan ketika aldi juga bersekolah ditempat yang sama dengannya lagi. Aldi juga satu kelas dengan kiara. Awal kebersamaan mereka dimulai kembali ketika aldi dan kiara dimasukkan dalam satu kelompok belajar. Mau tak mau mereka harus akrab kembali. Dan saat itulah, rasa suka kiara pada aldi datang lagi. Sebenarnya, aldi telah lama tau bahwa kiara menyukainya, tapi ia tetap tak mempedulikan perasaan kiara itu.
                Suatu hari, sepupu kiara memberi kiara sebuah 3 gelang yang memiliki warna dan model yang sama. Ia bingung harus memberi gelang itu pada siapa. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk memberinya satu untuk sepupu yang telah memberikannya gelang itu sebagai tanda terima kasih. Dan satu lagi, kiara setuju untuk memberikannya pada aldi saja.
“pagi al”,
“eh, iya ki, pagi juga”,
“al, aku punya 2 gelang dikasih sepupuku. Nih buat kamu satu ya?”,
“boleh. Makasih banyak ya”, ucapnya sambil tersenyum
“sama sama al”,
                Semester 1 telah berlalu, berganti menjadi semester 2 yang baru. Aldi tak lagi satu kelas dengan kiara karena terjadi pergantian murid dikelas. Dimana siswa yang prestasinya diatas rata-rata dikumpulkan dan dibagi dalam 2 kelas unggulan. Kiara menempati kelas unggulan kedua. Sedangkan aldi dikelas reguler. Suatu hari, sepulang sekolah teman sebangku kiara dikelasnya yang kebetulan laki-laki mengajaknya ke sebuah toko buku. Kiara mengiyakannya. Dan saat di toko buku kebetulan aldi juga berada disana sendirian tetapi kiara tak melihatnya, hanya aldi yang melihat kearah kiara yang sedang bersama teman lelakinya itu. Lama aldi memandanginya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan handphone yang bergetar disakunya membuatnya berhenti memandangi mereka dan akhirnya pulang kerumah.
                Keesokan harinya aldi mencari kiara dikelasnya. Tak ada, ia kemudian bertanya pada teman dikelas kiara. Katanya, kiara sedang ke kantin bersama bima, teman laki-laki yang kemarin bersama kiara di toko buku. Ketika aldi akan ke kantin, saat itu juga kiara akan masuk kekelasnya. Aldi lalu menarik tangan kiara keluar dari kelasnya. Kiara yang merasa tangannya kesakitan menarik lengannya agar aldi mau melepaskan cengkraman tangannya.
“ngapain al? Lepasin, sakit”,
“aku mau ngomong sama kamu”,
“yaudah ngomong, nggak usah pake narik tangan bisa kali ya”,
“kemaren habis darimana aja sama bima?”,
“dari toko buku, bima minta temenin nyari buku buat olimpiade. Kenapa sih kepo amat?”,
“kamu pacaran sama bima?”,
“kenapa sih? Kalau aku pacaran terus kenapa? Emang kamu peduli? Bukan urusanmu lagi aku pacaran sama siapa al”,
“iya, aku minta maaf ki. Aku nyesel. Btw mana gelang yang kembar sama aku ki?”, tanya aldi saat melihat pergelangan tangan kiara polos tanpa adanya gelang.
“gelangmu sendiri mana?”,
“emm.. anu ki, waktu aku kekamar mandi kemaren aku lepas, kutaruh diwastafel biar nggak basah. Pas keluar kamar mandi aku baru inget kalo ketinggalan, pas balik udah nggak ada. Maaf ya”,
“ceroboh banget sih al. Kamu emang nggak pernah ngehargai aku”,
“ki, aku ngajak kamu ngomong sekarang bukan buat debat, bukan buat bertengkar ki”,
“terus kamu mau ngomong apa? Mau ngomong kalo selama ini kamu suka sama aku, kamu nggak mau kehilangan aku buat kedua kalinya gitu? FTV banget al. Kuno, basi tau nggak. Aku tau, aku sekarang jadi egois, kasar. Itu semua karena kamu al. Udah ya al, mulai sekarang lupain deh masa masa yang kemarin. Lupakan janjimu yang mau nemenin aku sampe besar. Jalani aja hidupmu sesuka hatimu, aku jalani hidupku sesuka hatiku juga. Aku nggak mau maksa hatiku lagi buat selalu sayang sama kamu. Maaf al, aku nggak mau kecewa lagi”,
                Setelah mengucapkan kalimat panjang itu, kiara kemudian menggenggam jemari aldi dengan erat, setelah itu melepaskannya. Ia lalu berdiri, membalikkan badan kemudian berjalan kedalam kelas. Pikirannya terpusat pada teman-temannya yang terlihat asyik membicarakan sesuatu dan tak sabar untuk bergabung bersama mereka. Tapi hatinya masih terfokus pada aldi yang masih berdiri diluar kelas kiara. Ia cepat-cepat bergabung bersama teman-temannya sebelum hatinya mengalahkan pikirannya. Ia tak mau lagi kesal dan kecewa untuk yang kesekian kalinya. Biarlah kiara meninggalkan semua kenangan manis bersama aldi, meskipun itu seperti menghirup kembali nafas yang baru saja kiara buang.